26
Apr
08

HARU BIRU KEKASIHKU

By : Emha Ainun Nadjib

Laut berdoa
Tujuh samudera , seluruhnya, angkat bicara
Ya Tuhan Raja Diraja, perkenankan kami meluapkan air kami untuk menenggelamkan seluruh permukaan bumi
Kami akan bungkus planet yg makin berbau busuk ini dengan banjir total
Kami akan lumatkan kota-kota dan seluruh tempat tinggal manusia, kami akan bikin mereka megap-megap, memekik-mekik, kehabisan tenaga untuk berenang dan gagal untuk coba-coba menyelamatkan diri
Ya Tuhan Raja Diraja, kami akan bikin kehidupan mereka luluh lantak!

Para malaikat kaget bukan buatan mendengarnya
Kenapa, kenapa? Mereka bertanya
Dan laut menjawab
Bukankan memang itu yg manusia kehendaki
Kalian para malaikat telah mengetahui bahkan sejak sebelum manusia pertama diciptakan
Tapi kalian terlalu sabar dan mungkin agak bodoh
Dari Tuhan kalian memperleh jatah kesabaran yang berlebihan
Itu tak wajar

Para malaikat mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi: Wahai samudera yg dipilih Allah untuk mengajarkan ilmu semangat, kalian ini omong apa?
Manusia memande keris untuk mereka tikamkan ke jantung mereka sendiri perlahan-lahan
Untuk apa?
Apakah kematian sedemikian memerlukan estetika, memerlukan beribu seminar untuk merundingkan bagaimana cara yg menarik untuk mati, memerlukan sekian banyak biaya, ilmu dan teknologi serta berbagai kerepotan sosial?
Ya Tuhan Raja Diraja, begitu tolol cara manusia mementaskan ketololan
Perkenankan kami menenggelamkan kehidupan mereka sekarang juga

Para malaikat menggeleng-gelengkan kepala, tapi belum sempat mereka meneruskan pertanyaan, terdengar gunung-gunung pun berdoa
Ya Tuhan Maha Adikuasa, izinkan kami meledak, izinkan kami meletus, menumpahkan batu-batu panas ke segala penjuru, bagai seribu naga berlidah api yang mengangakan mulutnya, menyerbu pasar-pasar, bangunan-bangunan pemerintahan serta menumbangkan rumah-rumah ibadah yg dipalsukan
Ya Tuhan Maha Adikuasa, izinkan telinga kami memperoleh kelegaan dengan mendengar jutaan manusia menjerit-jerit dengan wajah pucat pasi, berlari ke sana ke mari dan bertabrakan satu sama lain
Izinkan mata kami menyaksikan naga-naga membelit dan meremukkan tulang-belulang mereka dan apabila ada di antara manusia yg coba lari menghindar, ekor naga-naga kami akan mencambuk: seribu orang terlempar oleh satu kali cambukan

Kalian ini dihinggapi penyakit jiwa macam apa? Para malaikat hampir membentakkan suaranya
Aku tak sabar lagi! Jawab gunung-gunung
Sedangkan seluruh hamparan alam ini bersujud kepada Tuhan, tapi manusia saling sakit-menyakiti satu sama lain
Sedangkan planet dan bintang-bintang bertasbih, tapi manusia sibuk merampok dan menindas
Sedangkan air bergemericik, melantunkan melodi-melodi pemujaan, tapi manusia merampas waktu untuk monopoli dan menghimpun batu-batu berhala
Sedangkan katak dan cengkerik paham ekosistem, tapi manusia merusak tradisi hukum penciptaan
Sedangkan angin mengelus pepohonan, meniupkan seruling cinta dan sembahyang, tapi manusia menghabiskan biaya untuk makin gagal memahami diri mereka sendiri, untuk terus salah sangka terhadap kehidupan

Dan tiba-tiba terdengar suara pepohonan
Tingkah laku manusia membuat sembahyangku tidak khusuk
Aku ingin tumbang menimpa rumah-rumah mereka

Terdengar pula burung-burung mengumandangkan suara
Kamilah burung-burung yang terbuat dari kata-kata yang diucapkan oleh mulut manusia
Satu kata yg dilontarkan menjelma seekor burung
Berjuta-juta kata yg setiap hari memuncrat dari mulut manusia menjelma jadi berjuta-juta burung yang tak berbentuk, yang kepala kami dikjadikan kaki, kaki kami dijadikan paruh, paruh kami tanggal dan berjatuhan ke ladang-ladang kering
Kamilah berjuta-juta burung yg disamarkan, dibolak-balik, dikhianati dan kehilangan makna
Ya Tuhan Sang Pemenuh Janji, perbolehkan kami sekarang menagih utang kepada manusia
Kami akan memenuhi angkasa, kami akan melingkari bumi dengan tubuh dan sayap-sayap kami
Kami akan taburi langit dengan menjadikan diri kami awan gelap yang mengirimkan cahaya kembali kepada matahari
Kami akan bikin manusia tak disentuh lagi oleh cahaya sehingga sempurnalah kegelapan yg mereka rancang dan rekayasa sendiri
Kemudian kami akan kirim sebagian dari kami untuk turun ke bumi, menerpa setiap manusia, mematuk kening mereka, mencakar-cakar daging mereka, kemudian kami paksa mereka mencucup darah mereka sendiri yang mengucur

Kemudian beribu-ribu suara terdengar bersahutan
Seribu doa meluncur, melesat jauh ke tepian jagad
Matahari berdoa tentang kebutaan hati
Rembulan berdoa tentang keperawanan
Siang berdoa tentang kerakusan
Malam berdoa tentang kemaksiatan
Udara berdoa tentang pencemaran
Sungai berdoa tentang kotoran
Ruang berdoa tentang monopoli
Waktu berdoa tentang penjara
Logam berdoa tentang peluru
Api berdoa tentang mesiu
Doa-doa tak terkatakan
Doa-doa tak terumuskan
Doa-doa bertabur, berdesing, bergulung-gulung
Doa-doa menampar langit
Doa-doa hampir menjatuhkan bintang-bintang

Dan Jibril, Jibril, terbang dari ‘Arsy
Menangkap semua itu
Menggenggamnya menjadi sunyi

Kemudian Tuhan berkata
Meskipun tak setitik benda atau kehampaan pun
Mengetahui dari mana dilontarkan
Kemudian Tuhan berkata
Meskipun tak seserpih suara atau kesunyian pun
Mengerti apakah itu suara atau bukan suara

Diamlah kalian
Karena Aku paham
Kalian tidak

Laut, gunung-gunung
Debu dan angin berdesir
Bintang beredar dan mengalirnya air
Kusabda untuk menjalin cinta
Namun tidak untuk memahaminya

Manusia adalah masterpiece ciptaanku
Kalian tak kuberi kemungkinan untuk menakar betapa artinya itu bagiku
Manusia adalah haru-biru kekasihku, yang kuunggulkan dan kusayang sebagai kandungan emas dalam butiran-butiran debu
Dengarkanlah, tentang hal itu pun kalian semua tak kuberi ilmu

Kalian seribu samudera seribu laut akan menguap, mengering oleh panas api cintakku kepada makhlukku yg bernama manusia
Kalian bijih besi baja segala logam akan meleleh jika kuperdengarkan senandung cintaku kepada mereka

Sungai mengalirlah
Danau heninglah
Udara bertiuplah
Pepohonan bersujudlah
Gunung-gunung bersedekaplah
Bintang beredarlah dan langit tunduklah
Agar cintaku kepada kekasih unggulku tak menjelma jadi amarah yang tak akan sanggup kalian tampung dan mengerti

Kalian alam benda, alam nabati dan hayawani tak kuberi hak untuk marah
Kalian semua yg menghuni wilayah kerendahan dari langit-langitku, tak kuwarisi kewenangan untuk mengubah atau membekukan, untuk mempercepat atau memperlambat, untuk menghancurkan atau membangun
Kemerdekaan semacam itu hanya kupinjamkan sebagian kepada manusia kekasih unggulku

Kalian alam langit bawah tak memerlukan kesabaran untuk bersabar menampung polah-tingkah kekasihku

Karena kalian adalah persemayaman kesabaran itu sendiri yg menunggu manusia menyusunya dari puting kalian
Kalian adalah jagat sujud itu sendiri di mana manusia bercermin untuk belajar tahu diri
Kalian adalah salah satu negeri ilmuku di mana manusia meniti dan menyerap tanda-tandaku untuk menyuapi kelaparan pengetahuan mereka

Kalian menyaksikan manusia kehilangan budi di puncak akal budinya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia disakiti oleh kegagahan ilmu kesehatannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia terbodoh-bodoh di ufuk jauh pengetahuannya, tenanglah
Kalian menyaksikan manusia menata batu bata kehancuran di hari-hari gegap gempita pembangunannya
Tenanglah
Diamlah

Kalian tak akan tahu betapa aku menyayangi mereka
Dan apabila kalianlah yang dulu menciptakan manusia, niscaya akan sedemikian besar pula cinta kalian kepada mereka
Bahkan cinta kalian akan sedemikian buta, sehingga gerak tangan kalian akan mempercepat kehancuran hidup mereka

Iklan

1 Response to “HARU BIRU KEKASIHKU”


  1. 1 lenny
    14 Juni 2009 pukul 00:43

    hmmm..aku tak bisa berkata apa-apa. Mungkin inilah mengapa Alloh terus memaksaku tinggal, menyempurnakan takdir…yang aku sendiri tak tahu. Tentu saja untuk sesuatu yang sangat besar, kita memang harus mengambil jarak dari keinginan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: