21
Apr
08

DOOR DUITERNIS TOT LICHT

Raden Ayu KartiniSetelah lebih dari seabad pergolakan jiwa R.A. Kartini, tinta-tinta sejarah masih belum terang menulis perjalanan hidup Kartini. Bahkan cita-cita Kartini belum terbaca dengan fasih oleh kaumnya hari ini. Ide egalitarian yang sangat meresahkan Kartini bukanlah topik utama media hari ini bahkan ketika membahas tentang Kartini.

Ide egalitarian itu tersirat dalam surat Kartini kepada Estalle Zeehandelaar (tertanggal 18 Agustus 1899), “Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri deagan “sembah”. Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang lain yg lebih tinggi derajatnya haruslah perlahan-lahan, jalannya langkah-langkah pendek-pendek, gerakannya lambat-lambat seperti siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut sebagai kuda liar. Peduli apa aku deagan segala tata cara itu…..Segala peraturan itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa itu….

Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yang akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara Liberal itu boleh dijalankan.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan pikiran, dan keningratan budi. Tdk ada manusia yg lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sdh beramal sholeh orang yg bergelar macam Graaf atau Baron..? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yg picik ini,..

Silahkan baca ulang surat Kartini di atas, adakah itu sebuah cerminan “kegelisahan emansipasi” atau lebih merupakan sebuah “keresahan egalitarian“?

Betapa kekuatan pemberontakan demikian kuat dalam jiwa Kartini, perubahan ke arah yang lebih baik, kepada peradaban yang lebih maju dan manusiawi. Dalam hal ini, pada masa itu pemikiran barat dari sahabat-sahabat pena Kartini menjadi inspirasi dan kekuatan untuk maju.

Pengaruh barat dalam pemikiran Kartini dapat dilihat dalam surat Kartini yang ditulis untuk Estalle Zeehandelaar (tertanggal 25 Mei 1899),”…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa“.

Namun Kartini bukanlah orang yang “meliberalkan” dirinya dengan membabi-buta, Kartini adalah zat hidup yang bergerak mencari cahaya. Maka perjalanan Kartini tidak berhenti pada pemujaan terhadap pemikiran-pemikiran barat yang mempengaruhinya. Bagaimanapun Kartini dibesarkan dalam lingkungan yang mengutamakan pendidikan agama.

Sampai pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulan khusus utk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama Raden Ayu yang lain dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat, ulama besar yg sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai Saleh Darat.

Kyai perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yg berilmu namun menyembunyikan ilmunya..?

Tertegun sang Kyai mendengar pertanyaan Kartini yg diajukan secara diplomatis. Kyai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yang diajukan Kartini karena sebelumnya pernah terlintas dalam pikirannya.

Singkat cerita tergugahlah sang Kyai utk menterjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kyai Saleh Darat memberikan kepadanya terjemahan Al Qur’an juz pertama. Mulailah Kartini mempelajari Al Qur’an. Tapi sayang sebelum terjemahan itu rampung, Kyai Saleh Darat berpulang ke rahmatullah.

Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukaan kata-kata yg amat menyentuh nuraninya : “Orang-orang yg beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya ( MInadzdzulumaati Ilaan Nuur ) “.

Kartini amat terkesan dengan ayat ini, karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran terbimbing oleh Cahaya Ilahi. Dan sebelum wafatnya Kartini, dlm banyak suratnya mengulang kata-kata ” Dari gelap menuju cahaya “, yg ditulis dalam bahasa Belanda sbg ” Door Duisternis Toot Licht “. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang“, sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.

Mungkin itulah yang seharusnya kita “rayakan“, sebuah perjuangan menuju cahaya, menuju pencerahan sampai akhir hayat. Semoga beliau Khusnul Khatimah. Amin.

Iklan

6 Responses to “DOOR DUITERNIS TOT LICHT”


  1. 1 salman
    21 April 2008 pukul 15:29

    keren bo’…..

  2. 22 April 2008 pukul 09:24

    good
    Mr Erwan S. Skom kalo ada kata2 bijak,puisi, apa aja cantumin disitu ya Mr. Erwam….
    wass

  3. 3 alif
    22 April 2008 pukul 14:39

    ehmm, wahh bagus pak.

    terus maju, tapi kalo terpaksa mundur ya harus mundurdulu, tapi kalo uda mundur jangan lupa maju lagi ^_^

  4. 22 April 2008 pukul 15:34

    great…
    kita juga lg merintis with joomla pak!!!
    share yach….

  5. 5 cah edan
    24 April 2008 pukul 09:21

    mas ning nang kamarku ra ono cahaya’i mas arep tuku lilin ra duwe duwit.

  6. 6 linda
    1 Mei 2008 pukul 14:48

    uhh…..terkesan banget
    sukses y….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: